logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 3 Januari 2003 Berita Utama  
Line

Aktivitas Gunung Semeru

Jika Hanya "Batuk" Masih Aman

KEPULAN ASAP: Aliran Sungai Besuk Bang yang kini sudah diwarnai kepulan asap dari material dan batuan panas akibat semburan Gunung Semeru di Desa Pronojiwo Lumajang. (Foto:Suara Merdeka/Jo-55t).

LUMAJANG - Jika gunung Semeru masih mengeluarkan semburan ataupun batu-batuan yang diibaratkan masih "batuk", oleh masyarakat sekitar justru diartikan bahwa gunung itu masih aman-aman saja. Yang dikhawatirkan kalau terjadi sebaliknya, tidak ada batuk ataupun letusan-letusan kecil.

Kepercayaan masyarakat itu pun masih didukung lagi oleh sesepuh di Desa Rawa Baung, Kecamatan Pronojiwo, yang mengatakan semburan ataupun aliran lahar dari kawah Jonggring Saloko itu tidak berbahaya, hingga warga desa itu tidak perlu mengungsi.

Sesepuh ini sudah menjadi panutan sebagian besar warga Desa Rawa Baung, hingga apa yang dikatakannya sudah langsung dipercaya. Tetapi, bagi Bupati Lumajang Achmad Fauzi, justru membuatnya tidak habis pikir dengan pendapat sesepuh tadi. Sebab, lokasi Desa Rawa Baung hanya hitungan meter saja dari aliran lahar panas yang mengalir di Sungai Besuk Bang dan Besuk Sarat. Sementara dua sungai di desa itu, Sungai Besuk Kembar dan Sungai Lengkong sudah membatasi gerak warga desanya. Namun, karena seruan Mbah Adi itulah, membuat warga di Desa Rawa Baung tetap tidak mau pindah ke tempat yang lebih aman.

"Kami sudah tidak kurang-kurangnya mengajak warga desa untuk secepatnya mengungsi, apalagi bahaya tidak tahu kapan datangnya. Padahal, warga desa di Rawa Baung ini mencapai hampir 400 jiwa," kata Fauzi di rumahnya.

Subur

Warga desa itu sudah bertahun-tahun dan turun-temurun bergulat dengan kehidupan bertani dan beternak di lereng Gunung Semeru yang memang subur. Diakui Fauzi, untuk mencapai desa ini sangat sulit. Selain terbendung dengan cuaca yang kadang tidak akrab, juga jalan menuju ke desa tersebut sangat sulit, karena harus melalui sungai yang kini keadaannya membahayakan.

Memang bisa jika harus memutar jalan lain, melalui jalan menuju desa yang letaknya ke arah utara ini, namun selain licin juga berbahaya.

Bahaya lain yang kemungkinan terjadi adalah banjir yang melimpah karena hingga sekarang beberapa sungai yang menjadi jalannya lahar sudah mengalami pendangkalan. Kalau nanti terjadi aliran lahar dingin ataupun banjir bandang, tidak menutup kemungkinan kerusakan yang terjadi akan lebih besar lagi.

Terlebih lagi di aliran Sungai Besuk ada tiga kecamatan yang sudah menjadi langganan banjir lahar Semeru, yakni Kecamatan Candipuro, Pasirian, dan Tempeh. Pengalaman letusan Gunung Semeru tahun 1976 dan 1980, beberapa desa di Kecamatan Candipuro seperti Desa Bondeli, Penanggal, dan Kloposawit benar-benar habis terlanda banjir.

Menurut Kepala Subdit Pengamatan Gunung Berapi Direktorat Vulkanologi Bandung Dr Mas Atje Purbawinata yang kini berada di pos pengamatan Gunung Sawur Lumajang, aliran awan panas terus mengalami peningkatan. Bahkan, ketebalan awan panas ini pun cukup tinggi karena di daerah hulu sudah mencapai 25 meter. Sedangkan di hilir hanya sekitar 3 meter saja.

Sekalipun status Gunung Semeru pada taraf "Waspada" belum sampai pada taraf "Siaga", namun kewaspadaan warga desa tetap dituntut makin tinggi karena bahaya setiap saat mengancam. Bahkan, pengungsian warga dirasa perlu karena perkembangan aktivitas Gunung Semeru ini pun berlangsung cepat.

Sementara itu, Kabupaten Malang sudah melakukan pembekalan pada satgas Linmas (Perlindungan Masyarakat), terutama di Kecamatan Ampelgading yang berbatasan dengan Kabupaten Lumajang sebagai upaya seandainya terjadi bencana alam. Apalagi di daerah perbatasan itu mengalir Kali Glidik yang biasa menjadi alur lahar Gunung Semeru.

Di Desa Argoyuwono yang berada di lereng Gunung Semeru kini juga sudah didirikan pos pengamatan, sementara di desa tetangga seperti Mulyoasri, Tamanasri, Sidorenggo seluruh warga juga sudah diminta waspada karena desa-desa itu paling mudah kena muntahan isi perut Gunung Semeru. "Kita memang kesulitan dalam komunikasi, satu-satunya cara hanya menggunakan handy talkie (HT)," kata Cholis Bidayati, Kahumas Pemkab Malang. (jo-16t)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA