logo SUARA MERDEKA
Line
  Jumat, 3 Januari 2003 Semarang & Sekitarnya  
Line

Skrining Infeksi, Tentukan Pemasangan Spiral

SEMARANG - Penggunaan alat skrining infeksi serviks atau penemuan dini Chlamiydia trachomatis dipandang perlu untuk menentukan seorang ibu perlu dipasang spiral atau tidak. Terutama diterapkan pada tingkat pelayanan kesehatan yang sarananya terbatas.

''Melalui skrining infeksi serviks ini bisa untuk menentukan boleh atau tidaknya kaum perempuan dipasang alat kontrasepsi spiral. Prosedur sederhana dan murah itu bisa diterapkan di puskesmas-puskesmas,'' tutur Dr dr RM Widjajanto SpOG seusai tasyakuran atas diraihnya gelar doktor dalam bidang obstetri dan ginekologi. Acara berlangsung di RS Telogorejo, Semarang, Kamis (2/1).

Menurut dia, banyak kasus infeksi tersebut yang terlambat dideteksi. Infeksi tersebut mulanya berada di mulut rahim. Pemasangan spiral turut memacu bakteri naik ke saluran sel telur.

Akibatnya, saluran sel telur menjadi tersumbat atau tidak bisa melakukan pembuahan sempurna, sehingga terjadi kehamilan di luar kandungan.

''Saya mencoba mengidentifikasi kasus tersebut. Dengan mengoles asam cuka 5 persen akan diketahui adanya epitel putih, cairan kuning pekat, atau hijau,'' ujar dokter kandungan pada Klinik Kandungan dan Kebidanan RS Telogorejo yang menyelesaikan pendidikan S1, S2, dan S3 di UGM Yogyakarta itu.

Apabila dalam skrining itu terdapat warna putih dan kuning pekat, menurutnya, jangan dipasang alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Yang perlu dilakukan adalah menjalani pap smear dan terapi Chlamyda.

Sementara bila pada alat tersebut menunjukkan warna hijau, maka diperbolehkan memasang AKDR. ''Tetapi, yang benar di sini bukan pemasangan spiral atau tidak. lebih dititikberatkan pada kebenaran skrining,'' terangnya.

Servikogram (Manise) yang terdiri atas gambarana kasat mata sangat berhubungan dengan infeksi serviks yang sangat dikenal oleh para bidan.

''Di tingkat puskesmas akan membantu para bidan untuk mengetahui perlu tidaknya pemasangan spiral.''

Penelitian tersebut dilakukan di puskesmas-puskesmas di Ambon. Hasilnya, servikrogram itu cukup valid, andal, dan akseptabel apabila diterapkan di puskesmas.

''Selain itu bisa meningkatkan kemampuan untuk penemuan dini atau skrining inbfeksi serviks Chlamydia,'' ujar dokter spesialis kandungan yang pernah bertugas di RSUD dr M Haulussy Ambon itu.(G1-45)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Olahraga | Internasional
Budaya | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA