
| Kamis, 5 Desember 2002 | Sala |
Toilet Menjadi Tempat FavoritSEJAK Minggu (1/12) hingga Rabu (4/12) dini hari kemarin, ratusan ribu pemudik dari berbagai kota singgah di Terminal Induk Tirtonadi, Solo. Perjalanan ke tujuan akhir kampung halaman, seperti Pacitan, Madiun, Ngawi (Jatim), atau daerah sekitar Solo, masih tersisa. Padahal jalan sepanjang ratusan kilometer sudah mereka lalui dengan menumpang bus. Di antara rasa lelah, mengantuk, lapar dan menahan buang air sepanjang perjalanan, maka jadilah toilet sebagai salah satu tempat favorit. Begitu turun dari bus, banyak yang buru-buru mencari kamar kecil. ''Mas nanti ya, bayarnya. Saya sudah tak kuat...,'' kata salah seorang ibu berusia sekitar 50-an tahun kepada petugas pemungut retribusi jasa ruang tunggu, Rabu dini hari sekitar pukul 02.00 kemarin. Setengah berlari sambil memegangi perutnya, dia menerobos petugas terminal yang menjaga loket penarikan retribusi jasa ruang tunggu yang bertarif Rp 200 per orang.
Tujuannya mencari toilet atau kamar kecil untuk buang hajat. Sang petugas pun memaklumi tindakan perempuan tersebut dengan isyarat anggukan kepala dan ucapan ''Nggih sampun. Terus mawon.'' (Ya sudah. Terus saja). Toilet-toilet di pojok-pojok Terminal Tirtonadi, Rabu dini hari itu nyaris tak pernah lepas dari antrean. Sebagian besar tampak bermuka muram, tetapi setelah keluar dari kamar kecil, raut mukanya menjadi lebih cerah meski harus merogoh kocek Rp 500. Depan Masjid Selain toilet, tempat favorit lain bagi pemudik yang singgah di Terminal Tirtonadi adalah ruang tunggu dan serambi Masjid Al Musafir di kompleks terminal. Dengan berbagai alasan seperti menunggu angkutan operan (armada lanjutan ke tempat tujuan), menunggu jemputan keluarga atau hal-hal yang lain, sebagian di antara mereka banyak yang sekedar tidur-tiduran untuk melepas lelah di dua lokasi tersebut. Tapi tak sedikit yang benar-benar tidur pulas, sambil ditunggu teman atau anggota rombonganya. Bahkan ada beberapa orang yang merasa tidak kebagian tempat atau tidak leluasa tidur berhimpitan, memilih tidur di taman depan Masjid Al Musafir. Lalu, nyamankan perjalanan mudik mereka? Beberapa pemudik yang saat ditanya Suara Merdeka sebagian besar menjawab ''lumayan''. Beberapa orang mengaku perjalanan cukup lancar, tanpa banyak ruas jalan yang macet. ''Jalannya nggak macet kok mas. Saya berangkat dari Jakarta jam Selasa pukul 12.00 dan sekarang sudah sampai Solo. Memang lelah, tetapi bagaimana lagi wong pingin menengok kampung,'' kata Ny Harjo (62) yang mengikuti anaknya Ny Karsi (47) mudik ke Pedan, Klaten. Ditanya soal tarif bus ekonomi yang ditumpanginya dari Jakarta, Ny Karsi mengaku membayar Rp 65 ribu. Beberapa pemudik seperti Suratman (36) yang akan pulang ke Ngawi, Mimik (30) yang akan melanjutkan perjalanan ke Madiun dan Parto (34) yang menunggu jemputan keluarganya dari Ngawi, mengaku kenaikan tarif bus masih wajar. Mereka ada yang membayar Rp 64 ribu hingga Rp 80 ribu per orang, untuk bus ekonomi. Namun Marji (30) yang akan pulang ke Kalioso, Sragen, harus merogok kocek Rp 170 ribu karena menumpang bus Patas eksekutif. ''Yah, saya kan pulang bersama anak-anak. Jadi biar lebih nyaman naik patas saja,'' kata dia yang mengaku penjual tahu goreng di daerah Depok itu.(Setyo Wiyono, Saroni Asikin-51) |