
| Kamis, 5 Desember 2002 | Karangan Khas |
Idul Fitri Membangun KeutuhanOleh: Saifuddin Ali Anwar MEMBICARAKAN Idul Fitri tidak bisa dipisahkan dengan Ramadan karena keduanya merupakan siklus sekaligus suatu sistem. Menghayati hikmah Ramadan melalui pendekatan dalam menindaklanjuti perjalanan hidup dan kehidupan manusia berikutnya pasca-Ramadan. Sebagai masukan, orang yang diwajibkan puasa Ramadan adalah orang yang beriman, dewasa, tidak sedang sakit atau dalam perjalanan dengan kurun waktu puasa sebulan penuh (QS 2: 185). Kemudian di dalam proses ada tiga aspek yakni Ramadan merupakan pembelajaran, pelatihan, pendadaran yang menyeluruh melibatkan fisik, mental, dan spiritual. Ramadan juga merupakan pencerahan hati, pikir, dan pengelolaan emosi agar tidak meledak ledak, dan Ramadan pada hakikatnya memenuhi undangan pesta dari Allah SWT dengan suguhan hidangan istimewa. Yakni Ramadan awalnya rahmah, tengahnya maghfirah, akhirnya pembebasan dari api neraka. Selanjutnya sebagai output (keluaran) puasa diharapkan menghasilkan orang-orang yang taqwam yaitu orang yang terpelihara hubungannya dengan Allah. Ciri-cirinya beriman kepada yang gaib seperti mendirikan salat, menafkahkan rizki, meyakini kitab Allah dan hari akhir (Alquran surat 2:34). Selanjutnya beriman kepada Allah dan hari akhir, malaikat, kitab nabi, memberi harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, musafir, peminta-minta. Terakhir yaitu balasan hadiah lebaran bagi orang yang taqwa. Yaitu memperoleh petunjuk Tuhan dan keberuntungannya (QS 10:62-63) Sedangkan berikutnya balasan orang yang taqwa yaitu Allah akan memberikan jalan keluar, memberi rizki dari arah tak disangka, memberikan kemudahan, menghapus kesalahan dan melipatgandakan pahala (QS 65: 2-50. Di dalam buku "Pintu-Pintu Menuju Tuhan" karangan Dr Nurcholish Ma djid. Puasa sebagai milik Tuhan di sisi lain sebagai ibadah pribadi. Ibadah yang tidak mungkin disertai orang lain, dan juga tidak diketahui orang lain. Ini makna sebuah hadis qutsi bahwa puasa itu milik Tuhan, Tuhan pulalah yang memberikan pahalanya. Hal ini membuat orang yang berpuasa menyadari sepenuhnya akan kehadiran Allah dalam hidupnya itu ada di mana saja dan kapan saja. Di samping itu dia yakin Allah yang langsung mengawasi tingkah laku orang yang berpuasa sehingga dia ikhlas mengerjakan puasa. Inilah sebenarnya salah satu makna taqwa yang menjadi tujuan puasa (QS. Al Baqarah 183). Dari sinilah penulis mengajak untuk dapat mencermati sudah sejauhmanakah perolehan hikmah puasa bagi umat manusia pasca-Ramadan? Mampukah berkontribusi lebih banyak guna ikut andil membangun kebersamaan antarindividu, keluarga, kelompok dalam menggalang keutuhan bangsa ? Ancaman secara perspektif terasa masih menghadap cukup berat, walau pemerintah saat ini nampak cukup solid dalam mengelola negara, namun ancaman disintegrasi bangsa, dekadensi moral, kemaksiatan, narkoba dan budaya kekerasan masih terjadi di sana-sini. Momentum Idul Fitri Idul Fitri kali ini mudah-mudahan membawa pencerahan ukhuwah antarsesama sehingga situasi tetap kondusif dan terkendali. Idul Fitri mempunyai makna 'Id yang artinya ulangan atau karena 'Id selalu datang dan kembali berulangkali. Sedangkan Fitri berasal dari kata fithr yang sama dengan fitrah yaitu salah satu ajaran Islam yang sangat penting. Ajaran bahwa manusia dilahirkan dalam kejadian asal yang suci dan bersih sehingga manusia itu bersifat hanif (artinya secara alami merindukan yang baik dan benar). Jadi kebenaran dan kebaikan adalah alami dan natural, sedangkan kejahatan dan kepalsuan tidak alami juga bertentangan dengan jati diri yang diwakili oleh hati nurani kita sehingga akan mengganggu rasa ketentraman. Persepsi akibat kebebasan pada masa transisi pada waktu memasuki era reformasi perlu ada klarifikasi persepsi yang lebih mapan, sehingga tidak timbul persepsi kebebasan yang kebablasen, mau menang sendiri, merasa benar sendiri, memaksakan kehendak. Oleh karena itu memasuki Idul Fitri pada hakikatnya sebagai tindak lanjut dari ibadah puasa Ramadan. Oleh karena itu pada tempatnyalah masing-masing individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat agar mampu mengevaluasi sekaligus menindaklanjuti hikmah ibadah puasa Ramadan. Apakah berseberangan, hanya sekadar ikut-ikutan yang bersifat simbol simbol seremonial yang jauh dari keikhlasan sehingga akan menyambut doa-doa yang kita panjatkan. Ketaqwaan sebagai tujuan puasa mengandung seperti yang diuraikan di atas yaitu memelihara kebersihan hati, kebersihan pikir, akan memelihara dan menjaga diri dari perilaku yang merusak fitrah kemanusiaan yakni citra sebagai mahhluk manusia yang paling sempurna. Mereka akan selalu ingat dan mengamalkan ayat ayat alquran. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan/ keburukan maka ia akan mendapatkan balasan dengan kejahatan tersebut. Dan ia tidak akan mendapatkan pertolongan kecuali dengan Allah baik sebagai pelindung, maupun penolong (QS An-isa; 123). Dan sebaliknya barang siapa yang beramal soleh baik lelaki maupun perempuan sedangkan dia beriman, maka mereka itu akan memasuki surga dan mereka tidak akan dianiaya sedikit pun (QS An-nisa; 124). Dan janganlah kamu campuradukkan yang haq dan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, padahal kamu mengetahui (QS. Al Baqarah 42). Sejak awal penciptaannya, manusia dihadirkan sebagai khalifah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 30: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan di bumi ini manusia sebagai khalifah". Hakikat dan fungsi manusia perlu ada klarifikasi pada kepahaman yang jelas agar tidak mispersepsi sehingga menimbulkan ketimpangan bahkan kerusakan di muka bumi. Bila kita simak ada dwi fungsi seorang muslim. Pertama sebagai khalifah yaitu mampu mengelola alam sesuai dengan syarat dan tuntunan yang ada dalam alquran dan hadis sekaligus sebagai pedoman kerja agar manusia berhati-hati dalam segala sikap dan tindakannya (QS Al Baqarah 42). Kedua sebagai penerus risalah Rasulullah SAW. Untuk itulah marilah kita lebih mencermati betapa kenikmatan hikmah Ramadan yang diperoleh umat manusia yang beriman yang telah menjalankan puasa Ramadan, dan memasuki Idul Fitri akan menjadi umat manusia yang dibutuhkan di era reformasi seperti sekarang ini. Yaitu umat manusia yang berani karena benar, jujur, disiplin, sabar, rendah hati, tidak mudah tergoda, tidak mudah marah, mampu memberikan maaf, lebih peka dan peduli kepada penderitaan sesama. (33)
-Drg H Saifuddin Ali Anwar SKM, Pimpinan Pondok Sisemut Ungaran dan Koordinator Widyaiswara Bapelkes Nasional di Salaman Magelang |