
| Senin, 7 Oktober 2002 | Jawa Tengah - Banyumas |
25 Rumah Panggung Sudah Disiapkan
PURWOKERTO- Pemkab Banyumas menyediakan 20.000 lembar karung yang siap dikirim ke lokasi rawan banjir. Selain itu, membangun 25 rumah panggung untuk menampung pengungsi di Kecamatan Tambak, Sumpiuh Kemranjen. Rumah panggung tersebut sudah lengkap dengan fasilitas mandi cuci kakus (MCK), sehingga cukup layak untuk menampung pengungsi korban banjir. Asisten Ekonomi dan Pembangunan (Asekbang), Suyatno S Sos, menyatakan hal itu saat memimpin rapat koordinasi menghadapi musim hujan Sabtu lalu. Diperkirakan, musim hujan akan datang pada bulan Oktober ini. Suyatno menyatakan, Pemkab bertindak proaktif mengantisipasi timbulnya bencana alam di musim penghujan mendatang. Yaitu dengan membentuk Satkorlak PBA (Satuan Koordinasi Pelaksanaan Penanggulangan Bencana Alam) sampai ke tingkat kecamatan. Pengalaman bencana alam longsor dan banjir tahun lalu, diharapkan tidak terjadi lagi pada tahun ini. ''Untuk itulah, Pemkab mengantisipasi sejak dini,'' jelasnya. Rapat diikuti dinas-dinas terkait, para camat dan perwakilan dari Perhutani Banyumas Barat dan Timur. . Kepada para camat, diminta waspada terhadap kemungkinan bencana banjir dan tanah longsor. Bentuk kewaspadaan ini, setiap kecamatan mulai membentuk Satlak PBA. Jangan Menunggu Menanggapi hal itu, Camat Kemranjen Bambang Sugiharto BA mengatakan, untuk mengantisipasi tanggul jebol, minta kepada Pemkab agar menyediakan karung pasir di kecamatan yang menjadi langganan banjir. ''Begitu ada banjir, tidak perlu menunggu bantuan yang harus diambil ke kabupaten,'' ujarnya. Suyatno menjanjikan, karena barangnya sudah ada, maka siap untuk dikirim begitu dibutuhkan. Kepala Dinas Pengairan, Pertambangan dan Energi, Ir Budi Susilo Dipl HE mengungkapkan, di Banyumas terdapat 35 desa tersebar pada 13 kecamatan yang rawan gerakan tanah. Untuk mengantisipasinya, sejak awal Oktober lalu telah dibentuk lima posko di sub-balai. Yaitu di Dukuhwaluh, Sumpiuh, Banyumas, Klapagading dan kantor eks pengairan. ''Posko ini aktif selama 24 jam penuh,''jelasnya. Budi menambahkan, saat ini terdapat 16.092 ha lahan kritis yang sebagian besar terdapat di bagian hulu sungai. Yang mengkhawatirkan, lahan kritis di Kecamatan Gumelar yang luasnya mencapai 3.297 ha. ''Luasnya lahan kritis tersebut, sangat potensial menimbulkan banjir dan gerakan tanah,'' katanya. Selain di Gumelar, lahan kritis terdapat di Desa Kemawi dan Klinting, Kecamatan Sumagede. ''Banyak perumahan yang perlu direlokasi karena terkait ancaman gerakan tanah,'' ujarnya. (jm-47 ) |