
| Kamis, 5 September 2002 | Berita Utama |
Konser Vanness Wu, Histeria Para ABG
JAKARTA - Demam Meteor Garden belum juga berakhir. Vanness Wu, salah seorang personel F4, kemarin melengkapi demam yang melanda remaja putri Indonesia sejak setahun terakhir ini. Si 'Muscular Barbie' itu kemarin membuat penonton yang memadati Ballroom Hotel Mulia menjadi histeris. Menyanyikan lima lagu dan album solo serta soundtrack Meteor Garden, Vanness tampil memikat dengan gaya dansa bak Michael Jackson. Dibuka dengan lagu Sin Cao Cu Li Ye (Looking for Juliet), Vanness menyanyi dan menari diiringi enam penari pria lainnya. Sebelumnya, Coklat membuka konser dengan lima lagu, Karma, Luka Lama, Jauh dan Bendera. Disusul Sheila on 7 dengan Bila Kau Tak di Sisiku, Terimakasih Bijaksana, Mama Papa, Pria Kesepian dan Seberapa Pantas. Padi kemudian melantunkan Sesuatu yang Indah, Semua Tak Sama, Maha Dewi, Kasih Tak Sampai dan Begitu Indah. Di konser bertajuk '4 Stars Night' itu Vanness menyumbangkan hasil pertunjukkan malam itu untuk Yayasan Sandi Nugroho yang banyak bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan. Setelah Looking for Juliet, Vanness kemudian melantunkan lagu Sen Thi Hui Chang Ke (Body Will Sing), Wo Thao Yen Wo Ce Ci, Sei Rang Ni Liu Lai yang berasal dari soundtrack Meteor Garden serta My Friend. Konser semalam sekaligus merupakan promotur album solo pertama Vanness berjudul ''Body Will Sing'' (Sen Thi Hui Chang Ke). ''Hal yang paling membuat saya bahagia adalah saat melihat orang-orang tersenyum, tertawa, menyanyikan lirik lagu saya dan berteriak gembira,'' tutur Vanness mengenai penggemarnya. Itulah Wu Vanness Van. Lelaki kelahiran California, Amerika Serikat, 7 Agustus 1978 itu meroket namanya sejak tergabung dalam F4, boyband asal Taiwan yang kemudian kondang setelah bermain dalam serial 'Meteor Garden'. Setelah merilis album F4 berjudul Meteor Rain, Mei lalu, personel F4 kemudian satu persatu mencoba bersolo karir. Setelah Vic Zhou, Vanness adalah personel kedua yang bersolo karir. 'Body Will Sing', menurut Vanness, lebih merupakan ekspresi dirinya yang amat suka menari. ''Sejak kecil saya sering mengikuti kontes tari. Saya sangat suka tampil di panggung. Lagu ini menggambarkan bahwa tubuh saya pun sebenarnya bisa menyanyi, bukan hanya lagunya, tetapi juga gerakan dansa yang indah membuat lagu ini lebih indah,'' akunya. Lagu ini menggunakan dua bahasa, Inggris dan Mandarin. ''Memakai bahasa Inggris, karena saya memang lahir dan besar di Amerika, sementara bahasa Mandarin digunakan karena memang pasarnya di sana. Dan itulah Vanness, yang dapat dilihat melalui dua bahasa itu,'' tutur pria yang mencoba mempertaruhkan keberuntungannya di Taiwan sejak dua tahun lalu. Ketika itu ia sebenarnya tidak begitu yakin dengan masa depannya di dunia artis. ''Yang saya tahu adalah saya sangat suka tampil di atas panggung. Setibanya di Taiwan, semua kemudian menjadi sejarah, segala sesuatunya mengalir begitu saja,'' tambahnya kemudian. (tn-29) | |||||