logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 1 Agustus 2002 Berita Utama  
Line

Di Limbangan Kendal 10% Ikan Koi Mati

SEMARANG-H Roes Soegiat, pembudi daya ikan hias dan konsumsi di Desa Sriwulan, Limbangan, Kendal, adalah salah satu korban wabah bakteri aeromonas hydrophilla (bukan virus-Red). Sedikitnya 10% ikan koi kesayangannya mati. Dia pun rugi sekitar Rp 7,5 juta.

Dia menduga kematian ikan koi itu karena perubahan iklim/cuaca. Hal itu menyebabkan kualitas dan debit air berkurang. Dalam keadaan tak menguntungkan itu ikan koi rentan terkena penyakit.

"Gejalanya, tubuh ikan koi ini agak lemas, tak doyan makan, dan kehausan. Kebiasaan lain ikan ini sering mendekati air gemercik dan sepertinya di dasar air kekurangan oksigen," kata Roes Soegiat, kemarin.

Dia menuturkan mengawali budi daya ikan koi tahun 1990-an. Saat itu baru sebatas hobi. Usaha itu terus berkembang. Kini dia menempati lahan 2 ha. Selain ikan koi, ada pula ikan air tawar lain seperti ikan emas (karper) dan bawal.

Pada tahun 1995 ikan peliharaannya terkena virus yang belum teridentifikasi. Pencegahan dilakukan, antara lain dengan memberi 3 kuintal garam krosok ke kolam 90 m2 dan menambahkan sedikitnya 100 kapsul Tetrasiklin ke dalam air.

Diberi Garam Krosok

"Saya kira penyakit ikan koi ini bisa dihilangkan dengan cara itu. Garam krosok dijual-belikan dan mudah dicari di kawasan Banjir Kanal sebelah timur," kata dia.

Memang penanganan preventif itu harus cepat dilakukan. Bila perlu setiap tiga bulan sekali kolam ikan emas dan koi yang sehat diberi garam krosok.

Dia menuturkan ikan koi adalah hewan kesayangan karena kelewat mahal. Ikan itu sekali memijah (bertelur) bisa 50.000-70.000 butir. Pemijahan biasanya terjadi setiap tiga bulan sekali. Karena itu para pencinta ikan koi tak perlu resah dengan kemunculan wabah bakteri aeromonas ini, asal selalu waspada.

Ikan koi yang sudah jadi dan siap lomba cukup mahal. Roes menyatakan ikan koi berukuran 70 cm bermotif cerah dan menarik bisa laku Rp 50 juta. Jadi secara ekonomis jelas menguntungkan bagi pembudi daya.

Persoalan wabah penyakit ikan emas dan koi pernah terungkap dalam forum diskusi di Desa Sriwulan, Kendal, Minggu (21/7). Diskusi itu membahas peningkatan pemeliharaan ikan hias dan konsumsi. Hadir Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Drs HM Fatah Dahlan, Prof Dr Ir Slamet Budi Prayitno Msc (pakar perikanan dari Undip), Dinas Perikanan dan Kelautan Jateng, dan sejumlah pengusaha budi daya ikan hias.

Dalam forum itu dibahas pula bagaimana mempromosikan Kota Semarang sebagai pasar ekspor ikan hias yang ideal. Sebab, selama ini agrobisnis ikan hias belum berkembang. Terbukti, banyak permintaan akan ikan hias untuk kebutuhan eksportir belum terpenuhi. (F2-g)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA