logo SUARA MERDEKA
Line
  Kamis, 1 Agustus 2002 Berita Utama  
Line

Selamat Tinggal Chow Kiet...

HARI-HARI ini adalah hari susah bagi TKI (terutama ilegal) yang bekerja di Malaysia. Mereka dideportasi setelah bertahun-tahun ''membantu'' kesulitan warga negeri jiran dalam aneka macam pekerjaan kasar. Mereka telah ikut andil dalam pembangunan gedung-gedung megah, pengelolaan kebun-kebun sawit yang jauh dari keramaian, dan pembangunan jalan-jalan tol, serta pabrik-pabrik di lokasi industri Petaling Jaya.

Bagi TKW, mereka melayani keluarga-keluarga kaya mulai pagi buta hingga larut malam. Setiap hari mereka berkutat di dapur seharian penuh (sering juga sampai larut malam) tanpa istirahat. Beberapa dari mereka bahkan kadang masih diperlakukan kasar, seperti ditendang, dicambuk, dihardik, dan dilecehkan. Untuk pekerjaan kasar seperti itu memang amat sulit mencari tenaga kerja penduduk asli. ''Orang di sini maunya kerja ringan-ringan, tapi gaji besar,'' ujar Pak Cik Mohammed warga asli Negeri Sembilan, Malaysia.

Karena itu, negeri tersebut menjadi incaran warga negara tetangga untuk mengadu nasib dengan menjadi tukang kayu, tukang batu, kuli perkebunan, kuli angkut pelabuhan, dan pembantu rumah tangga. Di tempat-tempat kerja jika ada orang bergerombol, tanyakan asal mereka. Kita akan tahu mereka itu datang dari Bangladesh, India, Filipina, Thailand, dan (diduga yang terbanyak) Indonesia.

Di Kualalumpur, kumpulnya warga asing kelas bawah dari beberapa negara itu di Pasar Chow Kiet. Di sinilah mereka saling tukar informasi tentang lowongan pekerjaan. Selalu saja ada informasi adanya bos yang memberi pekerjaan dengan upah tinggi. Meski razia imigran ilegal sering dilakukan di tempat tersebut, Chow Kiet selalu saja dipenuhi tenaga kerja ilegal dan tak terkecuali TKI. Bisa dimaklumi, sebab di pasar itu juga lengkap dijual aneka barang kebutuhan sehari-hari dengan harga relatif murah. Mereka datang dari kebun-kebun jauh untuk berbelanja.

Mereka yang termasuk dalam kelompok lelaki hidung belang yang hendak melaksanakan hajat seks dengan biaya murah juga datang ke sini. Tinggal pilih apakah wanita India, Cina, Bangladesh, Filipina, atau Indonesia. Upah sehari sebagai tukang kayu di negeri itu sudah cukup untuk membayar PSK dari mancanegara.

Dapat Devisa

Melihat cara kerja mereka di negeri orang, kita akan terkagum-kagum seakan tak percaya bila mereka itu TKI. Mereka bekerja tak kenal lelah seperti rekan-rekannya dari negeri tetangga. Etos kerja mereka bahkan tak kalah dengan orang-orang Korea atau Jepang. Padahal di negeri sendiri, mereka sering dicap pemalas.

Banyak orang Malaysia yang saya tanya mengaku lebih suka mempekerjakan orang Indonesia daripada tenaga kerja asal negara lain. ''Di samping faktor bahasa, tenaga kerja asal Indonesia sopan-sopan,'' ungkap Pak Cik. Etos kerja yang tiba-tiba berubah 180 derajat itu memang beralasan. Upah kerja di sini jauh lebih tinggi. Tiga kali, empat kali, bahkan lima kali lipat dari negeri sendiri. ''Sambilan sebagai guru mengaji sore hari, saya bisa memperoleh Rp 2 juta sebulan,'' tutur Tatik, ibu rumah tangga yang suaminya tercatat sebagai TKI legal di Malaysia.

Jika menyaksikan bagaimana perilaku kerja TKI bekerja di negeri jiran itu, kita terasa iba. Mereka yang setiap bulan mengirim ribuan ringgit pada keluarga di Indonesia memperolehnya dengan tak mudah. Setiap saat, keringat selalu menyembul dari pori-pori kulit tubuhnya. Ringgit-ringgit itu diperoleh dengan susah payah.

Tak sedikit dari mereka yang terpaksa tidur beralaskan rumput dan beratap langit. Sengatan sinar mentari pada siang hari bolong tak dirasakan. Dari jerih payahnya itu telah terkumpul banyak devisa untuk negara. Tekad besarnya telah meringankan pemerintah dalam mengatasi permasalahan pengangguran.

Terkutuk

Karena itu, terkutuklah pihak-pihak yang menjadikannya TKI sebagai sapi perah. Mereka berangkat harus menjual sapi, kambing, dan sawahnya. Sampai di negara tujuan, banting tulang dan mandi keringat untuk mendapatkan ringgit. Caci maki mereka tahan, penderitaan tak mereka rasakan, hanya untuk cita-cita membahagiakan keluarga di rumah. Ketika ringgit telah terkumpul, tega-teganya ada yang mengeruk dari koceknya dengan berbagai dalih. Mulai dari uang keamanan (karena masuk negeri jiran secara ilegal), pungutan macam-macam oleh oknum di pelabuhan, sampai ongkos transportasi yang kadang mahal tak masuk akal.

Mereka yang rata-rata berpendidikan rendah hanya bisa menggerutu diperlakukan demikian. Mereka tak tahu ke mana harus mengadu. Kini ribuan, bahkan ratusan ribu TKI-TKI dipulangkan. Waspadai oknum-oknum di pelabuhan dan di jalan-jalan.

Selamat datang kawan, kita masih mempunyai harapan. Kita tinggalkan Chow Kiet yang penuh kenangan. Negeri kita sekarang sedang dalam perubahan. Presiden akan dipilih langsung, juga gubernur, wali kota/bupati. Pada merekalah harapan dapat hidup lebih baik kita gantungkan. Jika sudah dipilih langsung, masih saja harapan tak terpenuhi, ya apa boleh buat. Kau bisa tentukan pilihan: kembali ke Chow Kiet dengan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan atau terus berjuang untuk menemukan presiden yang benar-benar concern dalam meningkatkan kesejahteraan pekerja. Indonesia baru membutuhkan orang-orang seperti kalian.(Subakti A Sidik-16j)


Berita Utama | Semarang | Sala | Jawa Tengah | Budaya | Olahraga
Internasional | Wacana | Ekonomi | Fokus | English | Cybernews | Berita Kemarin
Copyright© 1996 SUARA MERDEKA