image
24 Februari 2017 | 17:35 WIB | Unik

Endi Aras, Penjaga Mainan Tradisional

JAKARTA, suaramerdeka.com - Apa yang paling membuat seorang Endi Aras, pelaku dan penjaga permainan tradisional asli nusantara itu menjadi istimewa? Karena ikhtiarnya untuk terus enyelami kegairahan masa kecil dengan menjaga dan terus melestarikan permainan tradisional.

Karena, menurut dia, bermain merupakan naluri alamiah yang telah melekat pada diri anak sejak kecil. Sejak bayi, anak-anak telah memainkan tangan dan jari-jari kaki mereka, benda-benda disekeliling, memperhatikan gerakan mainan gantung atau cahaya, menggigit, memasukan benda-benda kedalam mulut, atau memproduksi suara-suara.

Seiring pertambahan usia, anak-anak memainkan permainan-permainan yang makin kompleks. Pengenalan mereka atas jenis-jenis mainan makin beragam. Mereka juga makin akrab dengan permainan-permainan yang membutuhkan keterampilan tertentu dan kerja sama tim.

“Dunia anak adalah dunia bermain dan gembira. Anak-anak dan aktivitas bermain merupakan dua buah subjek yang telah menyatu dalam satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,” ujar Endi Aras dalam sesi Pameran dan Gelar Permainan Tradisional “Menyelami Kegairahan Masa Kecil”, di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (22/2) kemarin.

Bermain yang Bermanfaat

Setelah itu, dengan fasih, mantan wartawan musik senior itu bercerita, sesungguhnya, dalam bermain anak-anak tidak sekadar mendapatkan kegembiraan. Dalam kegembiraan bermain, sejatinya anak-anak tengah belajar dan mempelajari banyak sekali pengetahuan. Dalam kegembiraan bermain, bertualang, dan mengeksplorasi lingkungan, jenis kecerdasan dan mempraktikan beragam keterampilan hidup yang sangat berguna bagi kehidupan mereka kelak.

Bermain, sepenceritaannya, memberikan banyak manfaat untuk anak, antara lain mendapatkan kegembiraan dan hiburan. Mengembangkan kecerdasan intelektual. Mengembangkan kemampuan motorik halus anak. Mengembangkan kemampuan motorik kasar anak. Meningkatkan kemampuan anak untuk berkonsentrasi. Meningkatkan kemampuan anak untuk memecahkan masalah, dan mendorong spontanitas pada anak, serta mengembangkan kemampuan sosial anak, juga sebagai media untuk mengungkapkan pikiran dan mereka.

Sedangkan untuk kesehatan, bermain mempunyai dampak lebih dahsyat, karena betapa dahsyat kekuatan bermain, permainan, dan mainan untuk anak-anak. Betapa banyak manfaat yang dapat dipetik anak dari aktivitas bermain, baik untuk perkembangan kogmitif, fisik motorik, maupun sosial emosional anak. “Tapi bagaimana jika hak bermain anak dilanggar?” katanya melempar pertanyaan retorik.

Anak-anak begitu gembira dan sangat menikmati aktivitas mereka bermain. Selain kegembiraan, anak-anak juga mempelajari banyak pengetahuan penting dan amat berguna bagi perkembangan mereka. Tidak boleh dilupakan, bermain merupakan salah satu hak anak yang di atur dalam undang-undang.

Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang menganggap bermain sebagai aktivitas yang tidak penting dan tidak bermanfaat. Pandangan yang keliru tentang aktivitas bermain pada anak ini membuat banyak orang tua mengabaikan hak anak untuk bermain. Mereka melakukan pembatasan-pembatasan atau memberlakukan banyak laranggan untuk anak bermain. Alasan pembatasan atau pelarangan terhadap anak untuk bermain, antara lain sebagai berikut.

Takut rumah menjadi berantakan.  Takut pakaian dan badan anak menjadi kotor Takut anak sakit karena terserang kuman. Takut anak terluka saat bermain. Takut kulit anak menjadi hitam karena terpapar sinar matahari saat bermain. Takut anak menjadi malas belajar dan prestasi akademisnya tidak bagus.

Berbagai ketakutan dan pandangan yang keliru membuat orangtua banyak melarang anak untuk bermain, menurut Endi Aras, justru akan membawa dampak negatif pada anak. Karena, bermain memiliki banyak manfaat untuk berbagai aspek perkembangan anak. “Dalam  bermain, sesungguhnya anak tengah belajar berbagai keterampilan yang sangat mereka butuhkan untuk menjalani kehidupan mereka kelak,” ujarnya.

Ketika anak-anak dibatasi atau dilarang bermain, ini berarti mereka telah kehilangan banyak kesempatan emas untuk menikmati kegembiraan, belajar berbagai pengetahuan yang amat berguna, menggembangkan berbagai aspek dalam dirinya secara optimal, dan meningkatan kreatifitas. Ketika anak-anak tidak dapat bermain dengan leluasa, berarti hak nya sebagai anak telah di abaikan dan dilanggar.

Karena, masa kanak-kanak adalah masa ketika kegembiraan menjadi seperti udara yang senantiasa dihirup dalam setiap tarikan napas. Masa ini adalah periode emas ketika nilai-nilai mulai disemai, ilmu mulai dipatahkan, dan tonggak-tonggak kreatifitas mulai di pancangkan. Peran aktivitas bermain bagi penanaman nilai-nilai, penguasaan ilmu pengetahuan, dan pengoptimalan kreativitas anak sungguh besar.

Maka kehidupan seperti apakah yang dimiliki anak-anak jika mereka hanya memiliki sedikit kesempatan untuk bermain? Tentu kehidupan yang tidak menggembirakan dan tidak memberikan kesempatan untuk berkembang secara optimal hingga potensi-potensi yang terpendam dalam diri anak tidak dapat melejitkannya ketitik tertinggi pencapaian yang mestinya dapat diraih jika saja ia mendapat kesempatan yang luas untuk bermain, bertualang, bereksplorasi dan bereksperimen.

Sebab, selain menikmati kegembiraan, dalam bermain, bertualang,  bereksplorasi, bereksperimen, hakikatnya anak-anak tengah belajar dan memperkaya diri mereka dengan berbagai ilmu yang di butuhkannnya sebagai bekal menjalani kehidupannya, sekarang dan yang akan datang. Anak mulai belajar tentang kehidupan, bagaiamana menghargai teman sepermainan yang beda Ras, beda agama dan kepercayaan. Dipermainan, ini hal itu nyaris tidak ada.  Semua bergembira, semua senang, semua membutuhkan satu dengan yang lain.

“Dan hari ini, mari kita mulai Selami itu kegairahan waktu bermain masa kecil kita. Yang kecil juga jangan berkecil hati,  karena Tuhan telah memberi kita banyak mainan,” sambungnya saat membuka pemeran yang berlangsung mulai tanggal 22 hingga 28 Februari 2017 di BBJ.

Warisan Permainan Tradisional

Dalam catatan Endi, Indonesia memiliki kira – kira 2.500 jenis permainan tradisional. Banyak permainan yang sangat luas persebarannya dan memiliki banyak persamaan dari satu daerah dengan daerah yang lainnya. Ada pula suatu jenis permainan yang persebarannya tidak luas, namun satu tempat dengan tempat lainnya berjauhan. Misalnya suatu permainan terdapat di Pulau Jawa dan Irian Jaya. Sedang diantara kedua daerah itu misalnya Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Maluku tidak terdapat permainan itu. Uniknya permainan itu memiliki cara atau teknis dan aturan permainan yang sama, sedang bahannya disesuaikan dengan benda atau bahan  yang terdapat di tempat masing-masing dan permainan itu telah ada sejak dahulu kala.

Seterusnya, banyak jenis permainan yang terbatas hanya dimiliki oleh suatu daerah tertentu.  Didalam permainan tradisonal ada terdapat bagian pada suatu permainan yang telah ada sejak dulu sampai sekarang. Bagian itu adalah cara mengundi atau cara menentukan pihak-pihak yang memulai permainan. Permainan tradisional dari berbagai daerah memiliki keaneka-ragaman cara mengundi yang cukup unik. Cara mengundi itu sengaja diberikan karena banyak cara yang dilakukan sampai sekarang adalah berasal dari permainan tradisional yang telah ada sejak lama. Cara cara itu tampak sederhana, namun pengaruhnya dalam pelaksanaan permainan sangat menentukan kelancarannya.

Hal yang sangat menonjol ditemui dalam permainan tradisional adalah sifat kejujuran atau sportifitas dan sikap memegang teguh aturan atau kebiasaan yang berlaku. Dalam pelaksanaan permainan tradisional hampir tidak pernah ditemukan sikap protes , melanggar aturan yang disepakati dan dapat menimbulkan sakit hari pihak-pihak yang bermain. Permainan tradisional dilakukan setiap saat, namun bersifat tetap misalnya pagi, siang, sore atau malam hari sesuai kebiasaan.

Sifat permainan itu sebagai pengisi waktu setelah bekerja yang pokok. Selain pengisi waktu, permainan tradisional juga bersifat memberikan kesenangan, kepuasan atau hiburan. Unsur prestasi pribadi agak kurang. Penggunaan waktu biasanya disesusaikan dengan sifat permainan. Bahkan ada permainan yang bersifat musiman, karena berhubungan suatu hal yang berkaitan dengan kepercayaan dan lain – lain.

Apa permainan tradisional itu ? Permainan tradisional mempunyai makna sesuatu (permainan) yang dilakukan oleh berpegang teguh pada norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun-temurun dan dapat memberikan rasa puas atau senang bagi si pelaku.

Tidak semua permainan tradisional membutuhkan bahan atau peralatan. Permainan yang tidak memerlukan  bahan atau peralatan lebih banyak daripada permainan yang memerlukan bahan atau peralatan. Bagi permainan yang membutuhkan bahan atau peralatan adalah hasil pemberian alam dan lingkungan.

Masyarakat di seluruh pelosok Indonesia sangat kreatif memanfaatkan pemberian lingkungan. Seperti biji-bijian, pohon kelapa, bambu, rotan, daun kelapa sampai pelepah pisang bisa dijadikan alat permainan.

Dari Kreativitas Sampai Sportivitas

Pohon kelapa tumbuh di seluruh Indonesia. Dan jenis tumbuhan itu dapat dimanfaatkan dari akar, batang, pelepah, daun/lidi, daging buah, sabut dan tempurungnya. Tempurung kelapa dapat dimanfaatkan seabagai wadah, hiasan atau kerajinan dan lain-lain termasuk permainan.

Banyak permainan yang menggunakan tempurung kelapa, seperti di Maluku untuk permainan gole-gole, sekual kui dan ero tampurung; di Sulawesi Tenggara untuk permainan Pebaji, lengko – lengko dan meringgoulo; di Sulawesi Tengah untuk permainan mo hanta dan mo yogo.

Jenis permainan yang memanfaatkan bahan atau peralatan dari bambu, rotan, kayu atau batang pinang antara lain, di Jakarta, permainan caku menggunakan batang pinang, ujungan menggunakan rotan, pletokan dan meriam sundut menggunakan bambu. Di Bali permainan magangsing dan maciwa menggunakan kayu. Di Kalimantan Selatan permainan batungkau menggunakan bambu dan butalele menggunakan rotan dan kayu.

Di Kalimantan Timur permainan letupan menggunakan bambu, permainan sesurungan menggunakan rotan, bebanting menggunakan kayu. Di beberapa daerah ada kreatifitas masyarakat menggunakan pemberian alam dan lingkungan seperti tali, pelepah sagu, batang lengkuas hutan, buah mange mange dari hutan, sejenis tumbuhan menjalar di hutan, daun nipah dan lain-lain. Di Irian Jaya permainan foo dan anakati menggunakan pelepah sagu, bokhusu khave menggunakan batang lengkuas, ampakeari menggunakan buah mange-mange dan amiogo menggunakan roda dibuat darii tumbuhan hutan dan manterau menggunakan tali.

Ada lagi tumbuhan yang orang lain memandang tidak bermanfaat, tetapi bagi orang tertentu menggunakannya sebagai permainan, misalnya batang pisang termasuk pelepah dan seratnya, rumput dan jerami, daun oandan, batang pepaya dan lain-lain. Permainan di Sulawesi Tengah mombu buni-buni menggunakan rumput atau jerami; di Sulaesi Utara liarau menggunakan daun pandan, ratukng roon pegaakng menggunakan rumput atau jerami; di Kalimantan Selatan gelindingan menggunakan batang pepaya; di Jakarta dododio menggunakan serat pisang; dan di Kulon Progo Yogyakarta gethekan menggunakan daun padi segar.

Kreatifitas orang dulu menggunakan apa saja yang ditemui setiap hari pada dirinya atau lingkungannya untuk yang menyenangkan cukup banyak. Jenis barang yang setiap hari ditemui, misalnya kain sarung, kain bekas, saputangan, gelang karet, karung goni, eceng gondok, pasir, sesajen, dan lain lain. Barang bekas seperti kaleng dan uang logam juga bisa menjadi permainan yang membuat senang. Kelapa tabon (masih berkulit), bola karet dan bola yang dibuat dari janur (daun muda dari kelapa ) tidak terbuang percuma. Jenis permainan yang menggunakan bahan seperti disebut itu misalnya ;di Sumatera Selatan platok menggunakan uang logam dan papan dan sembunyi gong menggunakan kaleng; di Jakarta sutil menggunakan uang logam dan merak-merak sintir menggunakan kaleng.

Di Yogyakarta layung menggunakan bola janur dan sliring gendeng menggunakan kelapa tabon; di Jawa Tengah gaprek kempung menggunakan kelapa tabon, pal-palan menggunakan kaleng dan kendi gerit menggunakan bola karet atau bola janur; di Kalimantan Timur lempar-lempar bola dan tambi-tambian menggunaan bola karet; sedang peca blek di Sulawesi Utara menggunakan kaleng.

Ada suatu benda yang awalnya sudah terbuang oleh alam atau manusia, kemudian terdaur ulang menjadi sarana untuk kesenangan. Benda semacam itu antara lain kulit kerang, kreweng atau pecahan genting / tembikar atau potongan papan kecil. Jenis permainan yang menggunakan bahan semacam itu antara lain : di Sumatera Slatan kreweng untuk cak ingking geprak , di Yogyakarta kreweng untuk dhoktri.

Kejujuran dan sportifitas merupakan ciri pada permainan tradisional. Setiap permainan selalu melalui proses tahapan. Tahapan itu meliputi persiapan, awal permainan, pelaksanaan dan akhir permainan. Ada permainan yang perlu dipimpin seorang wasit. Ada permainan yang tak perlu dipimpin seorang wasit,  tetapi dapat berjalan baik. Biasanya wasit ditunjuk oleh kedua belah pihak yang dipandang mampu. Biasanya dipilih yang paling besar atau yang paling tua.

Banyak jenis permainan, banyak pula cara menentukan pihak yang harus memulai permainan. Untuk menentukan pihak yang harus mulai permainan dilakukan sejenis undian. Ada jenis permainan yang tidak memerlukan undian, tetapi langsung dapat dilakukan bersama. Ada permainan yang dilakukan dengan dimulai oleh satu pihak berdasar hasil persetujuan bersama. Namun ada permainan yang dimulai harus dengan mengundi untuk menentukan pihak-pihak pemain pertama.

Cara mengundi telah ada sejak dulu. Ada cara mengundi yang masih di gunakan sampai sekarang. Peralatan mengundipun sangat sederhana. Namun dari yang sederana itu dapat menjamin kelancaran pelaksanaan permainan yang sebenarnya. Bahan untuk mengundipun banyak didapat dari alam sekitar.

Cara mengundi yang sangat populer, umum dan sifatnya universal adalah yang disebut sut atau suten dan ada yang menyebut hom-pim-pah. Cara itu dikenal di seluruh Indonesia bahkan dunia. Sut atau suten atau hom-pim-pah pada prinsipnya menggunakan tangan atau jari tangan. Di Jawa, ibu jari melambangkan gajah dan menang dari manusia; jari telunjuk melambangkan manusia menang dari semut; dan kelingking melambangkan semut menang dari gajah. Prinsipnya menggunakan tangan atau jari-jari tangan.

Di Jawa, sut atau suten berbeda dengan hom pim pah. Perbedaan antara keduanya terletak pada sebagian teknis pelaksanaannya. Pada hom pim pah, telapak tangan dikepal atau tidak dikepal disembunyikan di belakang bahu atau di belakang tengkuk; jadi posisi tangan ditekuk ke atas – belakang. Kemudian keduanya menghitung dengan ucapan hom pim pah dan akhir dari hitungan itu keduanya secara bersamaan menunjukkan ibu jari, telunjuk atau kelingking seperti posisi akan diadu dan kalah menang sama dengan sut.

“Saya punya cita cita Pameran ini juga bisa dinikmati oleh orang seluruh Indonesia. Saya punya keinginan untuk membawa pameran ini sebagai tur Pameran dan Gelar Permainan Tradisional,  ini mulai bulan April nanti dalam Tur Raksasa Dolanan Nusantara, ke 100 kota / Kabupaten se Jawa – Bali, kemudian berlanjut ke seluruh Indonesia,” kisahnya.

“Saya berharap tur nanti didukung oleh pemerintah baik di pusat maupun di daerah, dan juga swasta agar pameran ini dapat berjalan dengan baik. Anak-anak Indonesia dapat menikmatinya, dapat mengaktualisasikan diri lewat bebebrapa permainan ini, bisa bergembira,  tak hanya anak-anak  di kota tapi juga anak – anak di desa.
Jangan sampai permainan ini menjadi punah gara-gara permainan baru yang mahal harganya, karena jika permainan ini punah, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan ikut punah,” pungkasnya masih penuh harap.

(Benny Benke /SMNetwork /CN41 )