image
10 Agustus 2016 | 13:46 WIB | Sastra

Buku 3 Srikandi, Silvarani Menginspirasi Tanpa Menggurui

JAKARTA, suaramerdeka.com – “Dia bisa bikin bangga negara seribu kali!” kata Bapak sambil menunjuk Yana. “Tapi dia bikin kepalaku pening seribu kali juga!”. Demikian petilan dialog antara sosok Ayah Yana yang seorang militer dengan Ibu Yana, ihwal anak perempuan mereka yang berproresi sebagai atlet panahan nasional.

Ya Nur Fitriyana adalah citra atlet berprestasi asal Jakarta, yang akhinya berhasil menorehkan prestasi luar biasa, saat menggondol medali untuk kali pertama bagi kontingen panahan beregut putri Indonesia di ajang Olimpiade Seoul 1988. Itu adalah medali pertama selama keikutsertaan Indonesi adi ajang Olimpiade, sejak Olimpiade Helsinki 1952.

Bayangkan betapa tidak mudah jalan yang harus dialalui Yana sebelum berangkat ke Seoul di Korea Selatan. Bukan hanya harus mempersiapkan diri dengan keras di bawah arahan pelatih “bertangan besi” Donald Pandiangan, tapi dia juga harus berhadapan dengan ayahanda yang sangat dicintainya.

Dan semua lika liku perjuangan Yana, bersama dua sekonadannya, Kusumawardhani dan Lilies Handayani itu, oleh Silvarani dikisahkan dengan sangat baik dalam novel 3 Srikandi terbitan Gramedia. Dalam novel setebah 266 halaman plus foto dari adegan film 3 Srikandi arahan Iman Brotoseno itu, dinamika persoalan yang dilalui Kusumawardhani dan Lilies Handayani juga dinarasikan Silvarani dengan tak kalah dramatiknya.

Sehingga membaca buku yang berangkat dari kisah nyata tiga srikandi Indonesia saat mendapatkan medali pertama untuk Indonesia itu, seperti membaca kisah inspirasi yang tidak ada habisnya.

Jika Yana menggunakan latar Jakarta sebagai bahan penceritaaanya. Ujung pandang adalah latar cerita bagi Kusumawardhani, sedangkan Surabaya menjadi milik Lilies Handayani. Sebelum akhirnya mereka berkumpul di Jakarta, di bawah gemblengan Robin Hood Indonesia, Donald Pandingan. Gelar Robin Hood disematkan kepada Donald Pandiangan setelah dia menjadi nomor satu di Kejuaraan Panahan Dunia di Calcutta, pada 1980 (hal 9).

Diproyeksikan, seharusnya Donald berangkat ke Olimpiade Moskow 1980 via cabang Panahan. Tapi setelah Uni Soviet mencaplok Afganistan, Indonesia turut memboikot gelaran Olimpiade di Moskow. Hal inilah yang membuat Donald Pandingan sempat sakit hati, karena,” Tidak seharusnya olahraga dicampuradukkan dengan persoalan politik!” (hal 12).

Berbekal sakit hatinya itulah, ketiga anak didiknya, yang kemudian kita kenal sebagai tiga srikandi diadidik dengan sangat keras, untuk mendapatkan medali di Olimpiade Seoul 1988. Atau delapan tahun kemudian setelah kegagalanya turut serta di ajang akbar multi even empat tahunan itu.

Kisah tentang Donal Pandiangan, Nur Fitriyana, Kusumawardhani dan Lilies Handayani dalam mengharumkan nama Indonesia di pentas olahraga dunia itulah yang disajikan dalam buku yang terbagi daam XV Bab ini. Silvarani mengaku menyusun buku setelah melalui proses riset yang tidak sederhana. Karena berhubungan dengan dunia nyata, dan pelakunya masih hidup semua, kecuali mendiang Donald Pandiangan, mengharuskannya mengumpulkan data kepada orang pertamanya langsung.

Dalam artian, dia harus menemui semua pelaku kunci di buku ini. Dan tentu saja data yang tersedia di skenario versi filmnya. Yang menempatkan namanama bintang benderang seperti Bunga Citra Lestari, Chelsea Islan dan Tara Basro serta Reza Rahardian sebagai pelakon kuncinya. Untuk memperkaya buku 3 Srikandi, foto adegan versi film 3 Srikandi yang akan beredar mulai 4 Agustus juga disisipkan.

Dengan demikian diharapkan pembaca makin kaya asupan visualnya. Turunannya, diharapkan dapat menjadi penghantar imajinasi, sebelum menonton versi film layar lebarnya. Lazimnya sebuah buku yang diangkat ke layar lebar, atau skenario film yang dibukukan, masing-masing medium mempunyai kekayaan kazanah estetika dan pemikirannya masing-masing. Membaca buku yang tak terikat durasi tentu saja membebaskan imajinasi pembacanya. Sedangkan menonton film yang terikat durasi penayangan, memberikan pengalaman tontonan tersendiri.

Untuk itu versi buku ini ada, demi menjadi pengantar sekaligus memperkuat kisah inspiratif 3 Srikandi. Tanpa harus repotrepot menjadi menggurui pembaca atau penonton filmnya. Sebab, sebagamana dinukil di hal 257, para pelaku utama dalam buku ini, harus terlebih dahulu menghadapi ujian yang tidak ringan sebelum mengharumkan nama Indonesia. Dari ujian keluarga, dunia perkuliahan, dunia kerja hingga dunia percintaan, dan latihan sebagai atlit yang tidak ringan.

Semangat dalam menghadapi dan melewati semua ujian kehidupan itulah, yang hendak ditularkan dalam buku 3 Srikandi ini.

(Benny Benke /SMNetwork /CN41 )

ENTERTAINMENT TERKINI