Daerah
Kamis, 07 Desember 2006 : 17.14 WIB
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Makin Banyak, Istri Gugat Cerai Suami
Surakarta, CyberNews. Angka istri yang menggugat cerai suaminya semakin tinggi di Solo. Dari 87 kasus perceraian yang didata oleh Pusat Penelitian Kependudukan (PPK) UNS dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintah Kota Surakarta, 72% gugatan dilakukan istri. 28% sisanya oleh suami.

''Rata-rata umur suami yang bercerai 38,62 tahun, istri 33,69 tahun, dan mereka pun nekat bercerai meski sudah menikah cukup lama. Rata-rata perceraian terjadi pada usia pernikahan 11 tahun, serta memiliki empat anak,'' kata Hasih Pratiwi MSi, staf peneliti di PPK UNS dalam seminar data statistik vital Kota Solo, di aula Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UNS, Kamis (7/12).

Penyebab perceraian, dalam penelitian itu disebutkan karena perselisihan (71%), suami dipenjara (5%) dan karena sebab lain. Pasangan yang bercerai, rata-rata berpendidikan SLTA (79%) dan sisanya perguruan tinggi serta SMP dan SD.

Hasih mengatakan, sebaliknya pada data perkawinan, juga ada perkembangan menarik. Usia menikah pria rata-rata 28,72 tahun. Usia menikah perempuan 26,1 tahun. Pendidikan mereka lulus SLTA (45%), dan akademi serta sarjana 11%.

Ketua PPK UNS Ir Retno Setyowati MS mengatakan, gejala perceraian karena gugatan istri dan juga makin tingginya usia menikah wanita, merupakan kemajuan. Dari tahun ke tahun angkanya semakin naik.

''Mungkin ini salah satu dampak pembangunan, perempuan makin sadar akan hak dan kewajibannya. Sehingga ketika merasa dilecehkan, dieksploitasi, mereka berontak menggugat cerai,'' kata Retno.

Dia mengatakan, ada kemajuan perempuan Indonesia, seiring dengan kemajuan pembangunan. Mereka sudah semakin sadar gender, merasa berdaya sehingga lebih punya wawasan. Pemahaman hak keperempuannya sudah lebih maju. Sehingga kalau selama ini banyak perempuan tidak sadar akan hak dan kewajiabannya, sekarang semuanya berubah.

''Ini proses dan konsekuensi sebuah perubahan sosial. Mestinya dengan kondisi itu, pria makin menghargai perempuan, dan memosisikan diri lebih arif. Gugatan cerai biasanya terjadi jika problem sudah menumpuk. Bisa jadi faktor ekonomi, psikologis, sosial, sehingga terjadi perselisihan yang cukup berlarut-larut.''

Retno menemukan ada empat kasus dialami perempuan berpendidikan. Mereka merasa tereksploitasi karena mengerjakan seluruh urusan domestik. Padahal dia juga bekerja di sektor publik, membantu suami.

''Karena tidak ada perhatian, suami egois, akhrnya mereka menggugat cerai. Perempuan ingin pria juga mau membantu mengerjakan persoalan domestik, urusan keluarga,'' kata Retno yang kini meneruskan studi S3 di Universitas Satya Wacana Salatiga.

( joko dwi hastanto/cn05 )

Berita Terkini
Senin, 18 Februari 2008 : 19.36 WIB - Ekonomi Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.25 WIB - Nasional Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.18 WIB - Ekonomi Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 19.10 WIB - Daerah Aktual
Diduga Kuota Haji Habis
Warga Luar Jawa Cari KTP Magelang
Senin, 18 Februari 2008 : 18.54 WIB - Nasional Aktual Senin, 18 Februari 2008 : 18.32 WIB - Ekonomi Aktual

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA All rights reserved. No reproduction or republication without written permission